Search
Archives

PERTANIAN DAERAHKU

Usaha bercocok tanam didaerahku menjadi salah satu prioritas mata pencaharian. Beberapa macam tanaman menjadi cirri khas daerahku. Selain usaha bercocok tanam, usaha peternakan dalam pemelihaaan berbagai jenis hewan khas juga banyak didapatkan. Majalengka, mungkin bukanlah kota besar seperti Bandung ataupun ibu kota tapi hasil produksi warganya tak kalah saing dengan kota – kota besar disekitarnya. Banyak perusahaan – perusahaan besar yang sengaja mengincar hasil produksi daerah saya. Bukan hanya dalam bidang pertanian tapi bidang kreativitas pun,seperti kerajinan tangan cukup terkenal.

Anda tahu kecap ? Ikan Beunteur ? Kecap adalah salah satu produksi daerah saya yang cukup terkenal. Tak heran, juka Majalengka sering disebut sebagai kota kecap. Pabrik – pabrik produksi kecap berjejer d pusat kota. Kecap diolah dari bahan yang sederhana menjadi produk ternama. Proses produksinya yang cukup sederhana memjadi pertimbangan para pengusaha di kota kami untuk mengemasnya menjadi produk yang tak kalah saing dengan produk lain yang memiliki cost tinggi. Para distributor pun begitu tertarik untuk memasarkan produk ini sehingga keuntungan yang di dapat bisa menjadi investasi pribadi ataupun menjadi investasi daerah.

Kacang kedelai adalah salah satu tanaman yang tumbuh subur di daerah kami. Cuaca yang tidak terlalu panas, tanah yang subur membuat tanaman kacang ini tumbuh dengan subur. Kacang kedela adalah bahan utama dalam pembuatan kecap. Untuk memproduksi satu botol kecap, dibutuhkan kurang lebih setengah kilo gramkacang kedelai mentah. Adapun bahan – bahn dasar lain yang harus disiapkan adalah gula merah, garam dapur, benang putih, kemiri, ketumbar, jinten, lengkuas dan daun salam. Cara memproduksinya cukup sederhana yaitu kedelai dicuci sampai bersih kemudian diremas dengan dua liter air. Setelah terpecah – pecah serta terkelupas kulitnya diturunkan dari api. Kedelai dihilangkan kulitnya, bumbu – bumbu dihaluskan kecuali daun salam dan lengkuas.setalah itu memanaskan dua liter air kemudian kedelai, gula merah dan bumbu – bumbu lain dimasukkan. Setelah gula merah hancur, kedelai dan bumbu – bumbu yang di masukan tadi diturunkan dari api dan disaring dengan kain yang bersih. Akhirnya hasil saringan itu, kita sebut kecap. Hasil produksi itu biasanya didistribusikan ke kota – kota lain yang memiliki tingkat konsumsi tinggi terhadap kecap.

Selain kecap, ada satu jenis ikan yang menjadi cirri khas daerah saya yaitu ikan Beunteur. Ikan Beunteur adalah sejenis ikan yang berukuran relative kecil. Namun rasa yang dimiliki ikan tersebut siap m,engguncang lidah yang memakannya. Apalagi apabila ikan tersebut diolah dengan bumbu – bumbu yang sederhana menambah cita rasa dari ikan tersebut. Didukung oleh tekstur kulit yang crispy, dan dagingnya yang khas serta bau yang dikeluarkan ikan itu membuat orang merasa ketagihan jika sudah mengonsumsinya. Namun, Ikan Beunteur sekarang jarang sekali ditemui di daerah saya, karena adaptasi ikan ini yang sulit sehingga dia hanya bisa hidup di daerah tertentu saja. Tapi kendala itu tidak menghalangi niat para kuliner untuk bisa memakan ikan Beunteur. Tak tanggung – tanggung dimana saja rumah makan yang menyediakan masakan ikan Beuteur pasti ramai pengunjung dalam ataupun luar kota. Jika bisa dipertahankan untuk kelestariannya maka ikan ini bisa menjadi modal kemajuan daerah saya. Oleh kaena itu pemerintah sering sekali berpesan pada peternak ikan Beunteur untuk terus bisa mmelihara dan menjaga kelestariaannya dengan baik.